RE: Solusi Untuk Ujian Masuk PTN SAINTEK ?

Asslamualaikum Salam Sejahtera,Saya lulusan SMK jurusan MULTIMEDIA, lulusan 2015, sudah 2x ikut SBMPTN, 1x SNMPTN, 3x UMPTN yang akhirnya gagal, Baik yang SAINTEK maupun SOSHUM.

Saya ingin masuk ke kelompok saintek, tapi saya sangat lemah di bagian Matdas, Fisika (bagian perhitungan rumit), Bagaimana cara mengatasinya ? Saya sudah hampir menyerah untuk soal bagian itu, Tapi saya cukup menguasai Soal TKPA, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris.

Memang saya menguasai ilmu per-design-an, tapi saya tidak ingin melanjutkan kuliah jurusan tsb, Sedangkan Tempat saya bekerja dikelilingi orang orang dari Jurusan T. Sipil, Arsitektur dll dimana mereka adalah bagian dari kelompok Saintek, banyak dukungan dari rekan kantor untuk mengambil jurusan seperti mereka, bahkan saya juga ada keinginan untuk mengikuti jejak mereka.

  • Apakah Saya bisa Lolos jika “Hanya” Mengisi TKPA, bahasa Indonesia, Inggris tanpa Matematika, Fisika ataupun Biologi ??
  • Apakah bisa lolos di jurusan Teknik jikalau saya tidak bisa mengerjakan soal “hitung menghitung” ?
  • Bagaimana kriteria untuk kelulusan Ujian Masuk PTN ? perhitungan poin benar dan salah nya.

Terimakasih untuk Bpk/Ibu/Saudara/i yang sudah memabantu menjawab pertanyaan saya.

Wassalamualaikum,

Eko Julianto TK Ditanyakan on 9 April 2017 pada Curhat.
Tambah Komentar

Sebaiknya masuk perguruan tinggi dengan jurusan yang kamu sukai itu lebih baik dibandinngkan kamu menyesal karena kamu mencoba menyukai hal lain yang tidak kamu sukai sebelumnya.

Perlu dipahami pula bahwa setiap bidang studi (mata pelajaran)  Tes Bidang Studi Prediktif (TBSP)  di nilai berdasarkan aturan, sebagai berikut :

  • Apabila jawaban betul dikalikan 4 (empat)
  • Apabila jawaban salah dikali -1. (minus satu),
  • Apabila tidak dijawab dikalikan 0 (nol).

Dengan aturan tersebut maka jangan menjawab asal-asalan atau menjawab tapi tidak yakin bahwa jawabannya benar.  Carilah pertanyaan lain yang  dapat dijawab dengan benar (lebih baik satu jawaban benar dari pada banyak menjawab tapi salah). Berikut  ilustrasi jawaban dari dua orang peserta yang mengerjakan 7 soal SBMPTN :

1. Peserta A Menjawab 7 soal dengan rincian soal no 1 benar (skor 4 ), no 2 benar(skor 4),no 3 salah (skor -1) , no 4 salah (skor -1),no 5 (skor -1 ),no 6 (skor -1 ),no 7 (skor -1 ) jadi jumlah skor nya adalah 3. Peserta B hanya menjawab 1 soal yaitu soal no 1 sementara soal nomor lainya tidak di isi maka si B mendapatkan skor 4

Dari ilustrasi di atas   bahwa kita jangan terlalu bernafsu menjawab tapi tidak yakin jika jawaban kita benar.  Jangan berspekulasi, jawablah pertanyaan jika dianggap  mampu menjawab dengan benar,  lebih baik lewat dulu pertanyaan sulit.  Jangan terbawa penasaran sehingga menghabiskan waktu untuk mengutak-ngatik soal dan jawaban.

Kontribusi atau bobot TBSP terhadap total skore adalah 70% (0,7),  Apabila jumlah  yang diujikan 7  matapelajaran maka masing-masing matapelajaran mempunyai bobot 70%  : 7 = 10 %  (0,1). Sedangkan sisanya yang 30 % untuk bobot Tes Potensi Akademik (TPA)

Setelah skor didapat, maka dilakukan pembobotan  hasil  TBSP masing-masing matapelajaran dikali 0,1 (total 70%, karena ada 7 bidang studi).  Inilah yang disebut sebagai nilai mentah (raw score). Dari skor ini peserta mendapatkan rangking per bidang studi  di program studi yang dipilihnya.

Berikut ilustrasi sederhana perbedaan sistem penilaian persentil dengan sistem nilai mentah :

Contoh Perhitungan dengan Sistem NILAI MENTAH:

Misal ada 3 siswa Cecep, Entis, dan Aep dengan nilai sbb:

  • Cecep mendapatkan ranking 1 di mata pelajaran A dengan nilai 100 , mendapatkan rank 3 dipelajaran B dengan nilai 10 dan mendapatkan ranking 3 dipelajaran C dengan nilai 10 maka total nilai nya adalah 120 ( maka Cecep peringkat 1 umum )
  • Entis mendapatkan ranking 2 dimata pelajaran A dengan nilai 30 , mendapatkan rank 2 dipelajaran B dengan nilai 30 dan mendapatkan ranking 2 dipelajaran C dengan nilai 30 maka nilai nya adalah 90 (maka Entis peringkat 3 umum )
  • Aep mendapatkan  ranking 3 dimata pelajaran A dengan nilai 10 , mendapatkan rank 1 dipelajaran B dengan nilai 50 dan mendapatkan ranking 1 dengan nilai 50 dengan nilai 50 maka nilai nya adalah 110(maka Aep peringkat 2 umum )

Jika jumlah kapasitas yang dapat diterima 2 orang,  maka yang akan lulus adalah Cecep  dan Aep. Perhatikan ! Rangking Nilai/skor setiap mata pelajaran tidak diperhitungkan.bahkan yang memiliki 2 ranking 1 saja masih klah dengan yang mendapatkan 1 ranking 1

Sedangkan Menurut  sistem persentil, setiap pelajaran siswa akan diranking. dan diberi NILAI BOBOT  dengan rumus sebagai berikut :  100 kali (1– (rangking/jumlah perserta) , mari kita coba ilustrasikan dengan contoh yang sama seperti nilai mentah namun dengan perhitungan persentil :

Cecep ranking 1 dimata pelajaran A maka nilainya adalah 100 x (1- 1/3)= 67  , ranking 3 dimata pelajaran B maka nilai nya adalah 100 x (1- 3/3)= 0 , ranking 3 dimata pelajaran C maka nilainya adalah 100 x (1- 3/3)= 0 , maka total nilai adalah 67

Entis ranking 2 dimata pelajaran A maka nilainya adalah 100 x (1- 2/3)= 33 , ranking 2 dimata pelajaran B maka nilainya adalah 100 x (1- 2/3)= 33 , ranking 2 dimata pelajaran C maka nilainya dalah 100 x (1- 2/3)= 33 , maka total nilainya adalah 99

Aep rankin3 dimata pelajaran A maka nilainya adalah 100 x (1- 3/3)= 0 , ranking 1 dimata pelajaran B maka nilainya adalah 100 x (1- 1/3)= 67 , ranking 1 dimata pelajaran C maka nilainya adalah 100 x (1- 1/3)= 67 , maka total nilainya adalah 134.

Dengan sistem persentil ternyata urutan terbaik adalah

1.  Entis   (134)

2.  Aep     (99)

3. Cecep  (67)

Jika jumlah kapasitas yang dapat diterima 2 orang, maka yang akan lulus adalah Entis dan Aep.

Berdasarkan penilaian secara terpisah itu, hasil tes akan diberikan rangking.

Coba perhatikan ! Entis misalnya, pada sistem NILAI MENTAH dia memperoleh total skor yang paling rendah. Jika sistem nilai mentah Entis  “TIDAK LOLOS”. Namun dengan sistem PRESENTIL justru Entis “LOLOS” Kenapa ?

Karena Entis mempunyai ranking yang relatif stabil disetiap matapelajaran yaitu rangking 2 di semua matapelajaran. Berbeda dengan Cecep, walaupun pada sistem nilai mentah dia LOLOS (karena mempunyai skor mentah tertinggi), Namun dengan sistem presentil Cecep malah “TIDAK LOLOS” Kenapa ? Karena Cecep hanya mengandalkan Mata pelajaran A  (rangking 1) sedangkan mata pelajaran lainnya diabaikan (mempunyai rangking 3).

Artinya, peserta dengan rangking rata-ratanya tinggi  di semua mata pelajaran yang diujikan akan berpeluang besar lolos SNMPTN. Jika tidak bisa tinggi semua…yaaaa paling tidak stabil di semua mata pelajaran.

Ilustrasi diatas mudah-mudahan mampu menjelaskan misteri, kenapa teman kalian yang tidak diperhitung ketika di SMA  malah LOLOS di SNMPTN/SBMPTN.

TK Terjawab on 10 April 2017
Tambah Komentar

Jawaban Anda

Dengan memposting jawaban, anda setuju dengan Kebijakan Privasi dan ketentuan layanan.